Minggu, 25 Maret 2012

Teori Belajar Abad ke-20


Teori

adalah sejumlah proposisi yang terintegrasi secara sintaktik dan yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati (Snelbecker, 1974 dalam Dahar, 1988: 5).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, proposisi berarti rancangan usulan (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002: 899).
Teori, berarti rancangan gagasan untuk memprediksi dan mejelaskan fenomena-fenomena.
Teori belajar dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu teori sebelum abad ke-20 dan teori belajar abad ke-20.

Teori Belajar Sebelum Abad ke-20

Sebelum abad ke-20, telah berkembang beberapa teori belajar. Teori belajar ini dikembangkan berdasarkan pemikiran filosofis atau spekulatif, tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”.

1.     Teori disiplin mental

Tokoh teori disiplin mental adalah Plato dan Aristoteles. Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.

2.     Teori pengembangan alamiah

Belajar baru akan terjadi dan mendatangkan hasil bila anak telah benar-benar merasakan kebutuhan untuk belajar. Saat itu ia akan melakukannya dengan penuh kegembiraan sehingga pengalaman akan melekat sebagai kecakapan atau keterampilan.

3.     Teori apersepsi

Belajar adalah suatu proses terasosiasinya gagasan-gagasan baru dengan gagasan-gagasan lama, yang sudah terbentuk di alam pikiran. Misalnya, anak akan memelajari kata “kuda”. Ia diperlihatkan gambar kuda di atas tulisan kuda. Kemudian, ia menganalisis huruf perhuruf.

Teori Belajar Abad ke-20

1.     Teori Behavioristik

Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati. Tokohnya E.L Thorndike, Ivan Patrovich, B.F Skinner dan Bandura. Temuan penelitian para ahli ini dalam prinsipnya mempunyai kesamaan, yaitu bahwa perubahan tingkah laku terjadi karena semata-mata oleh lingkungan.

Teori Koneksionisme (Thorndike)

Prinsip pertama dari teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi antara kesan panca indra dengan kecenderungan bertindak. Prinsip kedua adalah pelajaran akan semakin dikuasai bila diulang-ulang. Prinsip ketiga adalah koneksi antara kesan panca indra dengan kecenderungan bertindak dapat melemah atau menguat, tergantung pada hasil perbuatan yang pernah dilakukan.
Teori Behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.

Teori Clasiccal Conditioning (Pavlov)

Pavlov membuat teori pada eksperimennya yang terkenal tentang fungsi kelenjar ludah pada anjing. Kemudian, ia menyimpulkan bahwa tingkah laku tertentu dapat dibentuk secara berulang-ulang. Watson mengembangkan teori tersebut.

Teori Operant Conditioning (Skinner)

Teori Operant Conditioning memiliki persamaan dengan teori Pavlov dan Watson, tetapi lebih terperinci. Ia membedakan adanya dua macam respons: respondent response, yaitu respons yng ditimbulkan stimulus tertentu, dan operant respondent, yaitu respons yang menimbulkan stimulus baru sehingga memperkuat respons yang telah dilakukan.

2.     Teori Kognitif

Tokohnya Kohler, Max Wertheimes, Kurt Lewin dan Bandura, dasar teori belajar tokoh ini sama. Yaitu dalam belajar terdapat kemampuan mengenal lingkungan, sehingga lingkungan tidak otomatis mempengaruhi manusia.

Teori Gestalt

Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi Kognitif. Teori ini berbeda dengan Behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui dan bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan Stimulus-respons. Teori Gestalt, berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Werthaimer, menurut Gestalt belajar siswa harus memahami makna hubungan antar satu bagian dengan bagian lainnya. Belajar adalah mencari dan mendapatkan prognanz, menemukan keteraturan, keharmonisan dari sesuatu.

Teori Medan (Kurt Lewin)

Pada dasarnya, teori Lewin dapat dikatakan sebagai perluasan teori Gestalt, yaitu:
1.      Belajar adalah pengubahan struktur kognitif. Maknanya, pemecahan problem hanya terjadi bila struktur kognitif dirubah.
2.      Hadiah dan hukuman merupakan dua sarana motivasi belajar yang memerlukan pengawasan agar digunakan wajar dan tepat.
3.      Faktor motivasi belajar lain adalah masalah sukses dan gagal. Sukses akan menjadi pendorong belajar, sedangkan gagal akan menyebabkan kemunduran belajar.
Teori Medan atau Field, menurut teori ini individu selalu berada dalam suatu medan atau ruang hidup. Dalam medan hidup ini ada suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk mencapainya selalu ada hambatan. Jadi perbedaan pandangan antara pendekatan Behavioristik dengan Kognitif adalah sebagai berikut:
a.       Proses atau peristiwa belajar seseorang, bukan semata-mata antara ikatan Stimulus, Respons, melainkan juga melibatkan proses kognitif.
b.      Dalam peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya misalnya belajar meniru sopan santun dimeja makan dan bertegur sapa. Peranan ranah cipta siswa tidak begitu menonjol, meskipun sesungguhnya keputusan untuk meniru atau tidak ada pada diri orang itu sendiri.



Teori Belajar Setelah Abad ke-20

Kilas Info! Referensi
seorang eksekutif senior telah memprediksi bahwa akhir abad 20 para pendidik akan dibayar lebih besar dari bintang-bintang film. Itu dikarenakan perusahaan-perusahaan media nasional di London sedang menciptakan program-program pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah yang ada saat ini.
Oleh karenanya masyarakat yang akan ikut dalam kegiatan ini harus terlebih dahulu melakukan perubahan-perubahan termasuk visi yang jelas bagi pembelajaran dimasa depan. Dalam waktu 10 tahun ke depan kita akan menyaksikan perkembangan teknologi-teknologi penting. Sehubungan dengan kemajuan jaman, maka Teknologi Pendidikan terlebih dahulu harus di gerakkan pada visi tentang pendidikan dan pelatihan di abad 21.
Menurut Dewan Konferensi Kanada, yang mengacu pada skill tenaga, maka harus memenuhi kecakapan-kecakapan kerja, yang meliputi:
1.      Cakap berkomunikasi (reading, writing, speaking, listening),
2.      Mampu belajar mandiri,
3.      Cakap sosial: etika, sikap positif, dan tanggung jawab,
4.      Kerjasama tim,
5.      Mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berkembang,
6.      Cakap berpikir: pemecahan ,masalah, kritis, logis menurut urutan angka, dan
7.      Pengetahuan navigasi: dimana mendapatkan, cara memproses informasi, Untuk memenuhi kebutuhan ini.
Dengan demikian teori belajar setelah abad 20 atau abad 21, seharusnya menganut teori belajar modern yang melihat pembelajaran sebagai pencarian individu akan makna dan relevansi. Jika pembelajaran berjalan di luar ingatan dan fakta-fakta, prinsip-prinsip atau prosedur-prosedur yang betul dan masuk ke dalam bidang kreativitas, pemecahan masalah, analisa atau evaluasi, maka siswa memerlukan komunikasi antar individu, kesempatan untuk bertanya, tantangan, dan diskusi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar